Kamis, 27 Desember 2012

Seharusnya Satu

Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. 

SD Negeri 01 Manggarai. Seperti biasa setiap jam pulang sekolah tiba, Charlin tetap setia menunggu ibunya menjemput. Keadaan sekolah yang begitu ramai, tampak sepi di mata batin Charlin. Sambil memainkan boneka teddy bear kesayangannya, Charlin terus mondar-mandir komat-kamit sendiri di depan pintu gerbang sekolah. Langit mendung, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras.
 Tak lama kemudian satu persatu siswa/siswi SD Negri 01 Manggarai dijemput masing-masing orang tuanya. Sampai seketika Charlin terkejut dengan suara teman sekelasnya.
 “Heh idiot... kasian deh, pasti lama nungguin ibu kamu dateng, tunggu in aja tuh sampe ujan nya reda, ibu kamu gak bakal dateng... bye bye idiot.” Ucap Alice sambil menjulurkan lidah nya pada Charlin, mengejek.
 “Alice gak boleh jahat gitu sama temen kamu dong, kasihan.” Ucap mama Alice menegur. Alice pun langsung masuk kedalam mobil.
Perkataan kasar Alice tak pernah dipedulikan sedikit pun oleh Charlin. Hal itu sudah biasa dirasakan oleh Charlin. Perkataan kasar, ejekan-ejekan, bahkan cacian karena fisik dan mental Charlin yang benar-benar berbeda dengan teman normal sebayanya, membuatnya terasingkan.
Charlin tetap saja bermain boneka teddy bear kesayangannya.
“Teddy kita terus main ya, ibu pasti tetap jemput kita kok, tenang aja.”  Ucap Charlin dengan terbata-bata pada boneka teddy bear. Charlin tetap riang, walaupun dia hanya ditemani pak satpam sekolah dan boneka teddy bear .
 “Charlin, Charlin, kamu selalu lama nungguin jemputan ibumu. Kasihan kamu.” Ucap pak satpam pada Charlin yang asik bermain boneka teddy bear. Charlin hanya duduk diam. Kali ini dia tak lagi mondar-mandir sambil komat-kamit.
 “Kasihan kamu anak manis, kok sering di ledekin idiot, padahal kamu kan anak yang pintar.” Pak satpam pun mengelus-elus lembut rambut panjang Charlin iba. Dua jam berlalu, hujan sudah reda sejak satu jam setengah yang lewat. Namun, tak tampak ibu Charlin menjemput. Dua jam setengah pak satpam dan Charlin menunggu. Tak lama, lima belas menit kemudian ibu Charlin menjemput.
“ Tiiiit...tiiittt ....” Bunyi klakson Ferrari Enzo, salah satu mobil termahal di dunia. Suara itu menandakan ibu Charlin menjemput. Keluarga Charlin memang tergolong keluarga yang lebih dari katagori mampu. Pekerjaan ibu Charlin sebagai menager utama di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, PT. Sahid Gema Wisata Tour & Travel, membuat kehidupan Charlin yang serba berkecukupan. Secara materi, ekonomi dan kebutuhan finansial, namun tidak dengan batin Charlin. Tidak dengan batin Charlin.

****

Sesampainya dirumah.
“ Bibik... tuh cepet urusin Charlin, dia pasti laper, kasih makan gih, ibu tadi sudah makan siang diluar”. Ucap ibu Charlin sembari masuk kedalam kamar.
 “Charlin yang manis, udah yah main boneka nya, kita makan siang dulu yuk.” Ucap bibik dengan lembut. Charlin hanya diam sambil terus bermain boneka teddy bear. Seketika, Charlin berlari kencang menuju ke kamarnya.
 “Charlin... Charlin ... hey makan dulu.” Ucap bibik setengah berteriak. Namun tak sedikit pun panggilan bibik digubris oleh Charlin.
     Charlin memang lambat dalam berbicara, dia bahkan hanya diam. Charlin lebih sering berbicara dengan boneka teddy bearnya, itu pun melalui isyarat, bahasanya sendiri. “teddy, kamu tahu gak ayah dimana? Aku mau main sama ayah. Ibu aku jahat ya, gak mau kasih kabar tentang ayah. Ayah dimana ?” dengan terbata-bata Charlin berbicara pada teddy.
Charlin termasuk salah satu golongan anak autis. Penyebab autis adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa. Sehingga Charlin tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Charlin cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Seolah-olah menolak berkomunikasi dan berinteraksi. Charlin seakan-akan hidup pada dunianya sendiri. Teddy bear satu-satunya barang yang sekaligus menjadi teman di hari-hari Charlin. Dia sulit memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal. Selain itu dia sering kali berjalan berjinjit.
Namun Charlin tergolong anak yang pasif. Lebih sering diam, tapi Charlin sulit mengendalikan emosinya. Terkadang jika dia melamun tiba-tiba dia bisa mengamuk, berteriak dan menghancurkan barang sekitarnya. Charlin temperatium (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang menangis, tertawa, lalu mengamuk tanpa alasan dan sebab yang jelas. Saat ini gangguan seperti ini dikenal sebagai gangguan spektrum autistic  (GSA).
Namun tidak semua penderita autis memiliki IQ yang rendah. Charlin tergolong anak yang pintar dibandingkan dengan anak-anak normal sebayanya. Oleh karena itu, Charlin diperbolehkan bersekolah di sekolah normal seperti anak-anak lainnya. Charlin pun mempunyai kelebihan lain. Dia gemar menggambar. Gambar-gambar Charlin bahkan lebih baik dari gambar-gambar teman sebayanya.


****



Diary Charlin

Aku capek hanya ditemani pak satpam di depan gerbang sekolah. Selama bertahun-tahun aku menjadi penunggu gerbang sekolah. Sebelum pulang aku mendapat bekal ledekan dari mereka yang tidak pernah menyukai aku. Idiot, idiot, idiot, autis, autis, autis. Begitu kata mereka. Apa aku pernah berbuat salah pada mereka ? Apa aku sehina itu ? Bagiku tak ada yang salah pada tubuhku. Aku tetap bisa mengikuti pelajaran dengan normal. Aku tak merasa kesusahan tentang itu. Menulis ? Berhitung ? Menggambar ? Mewarnai ? Aku bisa! hanya saja aku sulit menyampaikan sesuatu dengan kata-kata. Lidah ku terbata. Aku bukan bisu. Aku hanya sulit berbicara. Oleh karena itu, aku menuangkan semua yang kurasa lewat tulisan-tulisan ku, lewat gambar-gambar ku. Diremehkan dan dilecehkan menjadi makanan ku sehari-hari. Mereka dengan senang mengolok-olok aku. Aku benci, aku benci. Teddy bear, hanya kau yang paling mengerti.

****

Waktu Charlin memang banyak diluangkan dengan menggambar, menulis diary dan dengan hanya sekedar bermain dengan Teddy bear. Charlin selalu meluangkan isi hatinya di kertas melalui gambar, dan tulisan. Ibunya, Joice memang jarang sekali memperhatikan anak semata wayangnya ini, bahkan untuk makan bersama saja sulit. Tapi Charlin tak pernah merasa sendiri. Yang terbesit dalam otaknya hanyalah ayah kandungnya, yang tak pernah dilihatnya. Kesedihan dan kesakitan selalu menemani hari-hari Charlin. Tapi Charlin selalu merasa dia sangat dekat dengan ayah, lewat malam di alam tidur, alam bawah sadar yang menghantarkannya bertemu dengan ayah.



****


Taman bunga, 17 Maret 2012, 06:00 WIB
Pagi yang cerah, hari sabtu, weekend. Ayah selalu datang dan menepati janjinya bertemu denganku. Aku yakin ayah membawakan teddy bear yang lebih indah dari sebelumnya. Ayah memang yang paling mengerti aku. Di saat dia gak ada, dia mengirim malaikat kecil untuk menemani aku, Teddy bear. Aku selalu tak sabar menunggu detik-detik kedatangan ayah. Dengan berbagai keindahan taman disini aku akan terus menulis di buku diary kesayangan ku, sampai ayah datang. Ya, sampai ayah datang. Pagi-pagi sekali aku kesini. Aku ingin menikmati detik demi detik kedatangan  ayah. Banyak  orang yang lari maraton di pagi hari, weekend ini, aku ingin seperti itu juga . lari maraton bersama ayah. Keliling taman bunga. Aku iri pada mereka. Ahh kenapa aku jadi ngelantur begini ? Aku bahagia kok tetap bisa bertemu dengan ayah, walau pun hanya seminggu sekali. Hm...
“Charlin, hey apa kabar ?. apa yang menarik minggu ini nak ?” ucap ayah Charlin yang tiba-tiba datang sambil memeluk tubuh  Charlin.
 “Baik,semuanya menarik tapi aku kesepian ayah, hm tapi terbalaskan kok dengan kehadiraan ayah hari ini” ucap Charlin sambil cepat-cepat membalas pelukan ayahnya itu.
 “Anak ayah yang cantik ini ingin jadi penulis ya? Kemana mana bawa buku harian, untuk curhat ya?” ucap ayah, sambil tertawa kecil dengan Charlin.
 “Heee... ayah mau tau aja, iya dong aku kan berbakat, anak siapa dulu dong, anak ayah” ucap Charlin membalas.
 “Harapan satu-satu nya ayah hanya kamu Charlin. Kamu tahu ayah sudah berpisah dengan ibu, sementara ibu kamu sibuk, kamu harus mengerti ya...kamu tak akan pernah merasa sepi, lakukan lah hobby dan kesenangan mu jika kamu kesepian. Ini teddy bear untuk minggu ini sayang. Ayah selalu ada untuk Charlin”  ucap ayah Charlin panjang lebar, sambil mencium kening Charlin dengan lembut dan penuh kasih sayang. Mata Charlin berkaca-kaca, sungguh besar cinta kasih sayang yang diberikan ayahnya. Charlin merasakan sangat dekat dengan ayah. Keadaan taman bunga kali ini mulai sepi.
“Ayah harus segera pergi nak, kamu baik-baik ya, jangan melawan  dengan ibu. Ayah akan kembali sabtu depan” charlin tak menanggapi ucapan ayahnya tersebut. Karena ucapan perpisahan itu yang sangat ia benci. Dia hanya bisa memandangi ayahnya sambil memeluk boneka teddy bear pemberian ayah Charlin sabtu ini.
“Ayah pergi dulu, jaga diri baik-baik ya anakku” ucapan terakir itu membuat napas Charla tersentak, hari-hari yang panjang semingguan ini membuatnya sepi lagi. Tapi akan selalu ada teddy-teddy bear boneka pemberian ayahnya yang selalu menemani Charlin.

Kamar charlin, 17 Maret 2012, 06:00 WIB.
“Charlin, bangun ... udah pagi nih, ayo sekolah” ucap bibik sambil membuka jendela kamar Charlin. Charlin tak kunjung beranjak dari tempat tidurnya.
“Charlin bandel ya, ayo bangun , ibu udah siap-siap tuh, yuk kita mandi dulu” bibik pun menarik selimut Charlin.
“Iya bik, sebentar, aku mau liat jendela, pasti ada boneka teddy bear yang baru dibawahnya” ucap Charlin dengan terbata dan bergegas menuju jendela kamarnya. Charlin menemukan teddy bear yang baru, lebih besar dari sebelumnya dan kali ini boneka teddy bearnya bisa mengeluarkan suara. Ketika tobol di dada teddy bear itu di tekan, terdengar suara : selamat pagi Charlin.
“Tuh kan bik, ada yang baru teddy bear nya, ini pasti tadi malam ayah yang kasih deh. Ya kan bik?” Charlin tersenyum bahagia sambil memeluk erat boneka barunya itu. Sementara bibik hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, heran.
Lagi-lagi Charlin percaya mimpi-mimpinya itu adalah hal yang nyata. Dengan tempat dan keadaan yang berbeda namun pada waktu yang sama. Semua ini terjadi seakan-akan memang benar adanya. Ayah Charlin hadir? Apa iya?
Joice, ibu Charlin. Yang Charlin anggap bagaikan orang asing yang tugasnya hanya mengantar jemput Charlin sekolah. Namun sebenarnya, jauh dalam lubuk hati Joice, Charlin bagaikan nyawa, segala-galanya. Bintang hati yang sangat ia sayangi. Joice terlalu sibuk mengurusi hal dunia, namun tak pernah lupa pada Charlin, ia bekerja keras hanya untuk Charlin. Namun Charlin tak pernah menyadari itu, tak pernah menyadari dalamnya kasih sayang seorang ibu.

****


Diary Charlin.

    Aku tak pernah tahu, rahasia apa yang sebenarnya disimpan ibu. Hingga sampai saat ini aku bagai kan seseorang yang buta, bisu, bahkan tuli. Aku hanya bisa berhipotesi sendiri tentang kehidupan ku. Aku ini siapa sebenarnya? Siapa aku? Dimana ayah? Atau mungkin aku pun tak punya ibu ? aku haus akan kasih sayang sebuah keluarga. Sejak kecil aku dipaksa harus menerima semua ini. Adilkah ini? Ibu ... andai saja kau membaca tulisan ku ini, mungkin saja saat aku terlelap tidur, atau bahkan saat aku ke sekolah. Bacalah .. aku ingin kau tahu, aku rindu ayah. Tolong ibu, jangan sembunyi kan keberadaa nya. Sebenarnya ayah kan yang mengirim kan boneka teddy bear di bawah jendela ku setiap hari sabtu tiba, ya setiap weekend kan bu ? Ibu ... ayolah jangan diam saja.


****


    Setelah menulis buku diary, charlin menggambar dengan perasaan benci terhadap Joice, Charlin pun terlelap tidur. Charlin tertidur di meja belajarnya. Ia tampak sangat lelah.
Joice, ibu Charlin yang baru saja pulang dari kantor langsung pergi menuju kamar Charlin, seperti biasa. Dengan melihat kamar Charlin yang masih terang dan dengan kondisi pintu terbuka membuat Joice mengira, Charlin pasti ketiduran. Joice yang melihat Charlin dengan posisi kepala yang tidur di atas meja belajar, segera menggendongnya, agar dipindahkan ketempat tidur.
“maafkan ibu nak, ibu tak bisa cerita kan ini semua dulu. Ibu harus tetap diam nak, ibu takut kamu belum siap” ucap Joice seketika menangis. Air matanya jatuh saat membaca buku diary Charlin yang memang sedang terbuka itu. Joice memang sedang menunggu waktu yang paling tepat untuk ungkapkan semua teka-teki hidup anaknya sendiri, Charlin.
Joice pun segera keluar kamar Charlin untuk beristirahat dikamarnya. Sambil mengusap air mata perlahan dia melangkah keluar.
Joice berkonsultasi dengan dokter spesialis anak tentang keadaan Charlin selama ini, tentang keterlambatannya. Tentang gangguan spektrum autistic  (GSA).
Dokter mengatakan gangguan seperti yang dialami Charlin ini tidaklah terlalu menakutkan. Charlin bisa menjadi anak normal lainnya. Yang Charlin alami hanya tentang keadaan mental. Charlin hanya butuh sentuhan kasih sayang. Banyak anak yang dulunya divonis autis ternyata saat dewasa menjadi anak normal seperti biasanya.
Charlin pun begitu. Charlin bisa menjadi anak normal. Hingga akhirnya Joice pun sadar. Dia harus meluangkan waktu banyak untuk anak semata wayangnya, Charlin.

*Charlin mimpi lagi*

SD Negri 01 Manggarai.
“Hey Charlin, kamu masih menunggu ibu menjemput ya?” sumber suara dari sudut gerbang sekolah. Charlin pun menoleh.
“Ya, kenapa ?” ucapnya sambil menggenggam boneka teddy bear. Lalu tiba-tiba dengan wajah terkejut, Charlin melihat seorang laki-laki sosok berwibawa yang saat itu sedang menggenggam teddy bear juga.
“AYAAAAAH”  teriak Charlin. Ayahnya tersenyum sambil memeluk tubuh Charlin, erat.
“Ayah dari mana aja? Kok baru dateng? Ayah bawa boneka teddy bear lagi ? ayah jangan pergi-pergi terus dong yah” Charlin membalas pelukan ayah dengan rentetan pertanyaan.
“Maaf nak, kali ini waktu ayah sudah habis, kamu harus mengetahui semuanya. Semuanya nak, jangan terlalu memikirkan ayah, ayah tenang kok disana”
“Disana? Dimana ayah? Ajak aku kesana juga, aku mau ikut sama ayah.” Ayah charlin kali ini tak membalas pertanyaan dan pernyataan Charlin itu. Beliau hanya tersenyum. Lalu melangkah pergi dengan tiba-tiba. Menghilang.

*Kamar Charlin.
“Bibik... apa aku akan ketemu ayah hari ini disekolah? Apa ayah sudah menunggu ku sejak lama?” Charlin yang baru bangun tidur itu pun langsung menyodorkan pertanyaan yang membuat bibik bingung untuk menjawabnnya. Bibik selalu setia menemani Charlin. Pagi ketika Charlin membuka mata, bibik hadir. Malam ketika Charlin terlelap tidur, bibik pun hadir. Sosok bibik dalam hidup Charlin lebih dari seorang pembantu rumah tangga. Bahkan bibik tahu tentang semua rahasia ini.
“Iya Charlin, bangunlah. Mandi yang bersih. Mungkin ayah sudah menunggu.” Jawab bibik yang sudah lama berfikir untuk menyusun kata-kata yang tepat.
Senyum lebar terpancar pada wajah Charlin. Dengan semangat 45 ia menuju kamar mandi.
Ya Tuhan, sampai kapan aku harus turut bersembunyi dengan rahasia ini. Kasihan Charlin. Ucap bibik dalam hati.

****

Di sekolah, Charlin tak menemukan seseorang yang sedang menunggunya. 6 tahun berlalu di SD Negeri 01 Manggarai, Charlin tetap bertahan dengan kondisi yang sama. Namun belakangan ini, Joice, ibu Charlin sering meluangkan waktunya bersama Charlin. Charlin pun senang. Ibu yang dianggapnya hanya bertugas sebagai pengantar dan penjemput kesekolah, kini telah berperan ganda, menjadi teman Charlin bermain. Joice pun meluangkan waktu weekendnya untuk berkeliling di kota Jakarta, atau hanya sekedar bermain di taman wisata.
Perlahan namun pasti. Charlin mampu menjadi anak normal sebayanya. Ini hanya soal waktu, dan semua ini butuh proses.
Hanya saja, ada seseorang yang menempatkan Charlin pada sebuah perasaan bingung. Septian Danang Swandana. Sosok bocah tengil ingusan ini membuat perasaan bingung berkecamuk pada hati Charlin. Tian, begitu ia biasa dipanggil. Tian hobby sekali menguntit gerak-gerik Charlin dengan sembari berkata “hey Charlin, aku ingin jadi teman mu. Aku ingin jadi teman mu.” Begitu terus tanpa henti.
Hingga Charlin benar-benar heran, apakah ada kelainan pada Tian? Yang begitu tertarik ingin menjadi teman Charlin, seorang anak yang dulu pernah menderita autis?
Saat jam istirahat tiba, Charlin pun menyantap bekal yang sudah disiapkan bibik. Ia duduk di kantin.
“Hey, udah kelas 6 gini masih aja bawa bekal ! gak malu tuh ama umur?” suara ledekan terdengar keluar dari mulut Tian, yang memang sengaja mengikuti Charlin.
“Kamu selalu bilang ingin jadi temanku, tapi kenapa kamu selalu ledekin aku juga? Sama tuh kayak yang lain” ucap Charlin sambil menunjuk teman-teman kearah sekitar kantin.
“Tenang lah Charlin. Aku bukan ingin meledek mu. Hanya saja aku ingin berteman dengan kamu.”
“Aku tak butuh ditemani! aku punya banyak teman” suara Charlin mulai meninggi, pertanda emosinya mulai meluap.
“Banyak teman? Tedy bear mu itu? Dia tak bisa bicara. Dia hanya bisa diam. Tak mampu menghasilkan sesuatu. Ungkapkan semua yang kau rasakan padaku. Aku temanmu.” Suara Tian pun mulai meninggi.
“Kamu bukan temanku, aku tahu maksud mu. Kamu pasti hanya akan menyakitiku, dengan ledekan mu itu, fisikku, mentalku, ah... entah apa lah itu” Charlin bergegas meninggalkan kantin dengan wajah yang sedikit ditekuk, murung. Tian setengah  berlari “Okelah Charlin, mungkin belum waktunya. Aku berniat baik padamu”
Kejadian di kantin membuatnya murung, tak seperti di mimpinya itu, bertemu ayah.
Ujian semester akhir akan segara dimulai. Pertanda sebentar lagi ujian nasional akan segera dilaksanakan. Hal itu tak pernah dikhawatirkan oleh Charlin, dia pintar, dia terlatih, dia banyak persiapan. Tak seperti teman-temannya, yang kebanyakan mengambil bimbingan belajar untuk ujian nasional. Persiapan ujian. Charlin hanya belajar sendiri dirumah. Ditemani teddy bear, dan tentunya ditemani bibik juga.
Charlin telah menyentuh titik bosannya. Hal yang ia lakukan ketika bosan yaitu menulis diary.

*diary Charlin*

Kejadian pagi tadi membuat aku bingung, hal absurd apa lagi ini? Mungkinkah ada seseorang yang sudi menyentuh kehidupanku? Walaupun tahu jika aku memang sungguh-sungguh berbeda. Aku sulit melafaskan kata-kata dengan jelas, lidahku terbata, aku sulit berbicara, sehingga teman sejatiku hanyalah kertas. Kertas putih ini! Lalu, siapa lagi dia yang mau menghancurkan aku? Tian ! ah... kau selalu saja menjengkelkan. Belagak jadi pahlawan kesiangan, tapi pada akhirnya ledekin aku juga. Teddy? Teddy ! dia menghinamu. Secara tidak langsung dia telah menyakiti aku, karna telah menghina teddy. Dia bilang kau tak bisa berbicara, ya sudah kita kurang lebih sama. Hey, aku tidak bisu.
Ibu, tidak kah kau tahu, aku dalam keadaan bingung seperti ini, bukan kah aku seharusnya senang? Karena ada seseorang yang sudi menjadi temanku. Tapi, rasa takut justru bergelayut pada diriku. Aku takut sakit lagi, sakit hati. Andai saja aku punya sahabat, sahabat selain teddy. Ya tentunya manusia. Yang bisa aku ajak cerita, memberi solusi dan hal lainnya. Tapi memang benar. Keinginan yang tak tercapai memang selalu membuat seseorang berandai-andai. Ya, keinginan ku tak tercapai, dan aku hanya bisa berandai-andai.

****

Tian yang membuat kegalauan tinggal lah kegalauan. Sebenarnya Charlin ingin sekali menjadi teman Tian. Tapi rasa khawatir lebih besar dari rasa keinginannya. Mungkin saja semua ini akan hilang. Hanya akan ditelan waktu.
Ujian  Akhir Nasional dimulai hari ini. Segala persiapan telah dilakukan seluruh siswa/siswi kelas 6 SD di seluruh Indonesia. Termasuk Charlin, Charlin siap tempur dengan soal ujian akhir. Setibanya Charlin disekolah tampak Tian yang berlari-lari kecil menghampiri Charlin.
“hey Charlin, apa kabar? Sudah siap menghadapi ujian hari ini?” suara Tian menyusup masuk kedalam gendang telinga Charlin. Charlin hanya diam, tanpa ekspresi.
“aduh Charlin, masih dingin sama aku? Aku temanmu, sudahlah mulailah membuka diri. Tian membujuk Charlin. Tak lama kemudian Charlin dengan cepat berlari meninggalkan Tian.

****
Diary Charlin.
Seharusnya aku tak bersikap seperti ini pada Tian. Mungkin saja dia tulus ingin menjadi temanku. Tapi aku terlalu takut berinteraksi dengan dunia luar. Mungkinkah ini akan menjadi awal yang indah? Ataukah awal yang menyakitkan pula? Ah entahlah. Aku benci ditempatkan pada perasaan bingung seperti ini. Belakangan ini, aku mulai tertarik pada hal-hal baru, apa mungkin aku sudah menjadi anak normal? Tapi, aku bukan penyandang penyakit kronis sehingga banyak orang dapat meremehkan aku. Kini aku menjadi anak normal, aku yakini itu. Aku harus mulai membuka diri. Tuhan pasti punya rencana baik.


****

Hari kelulusan.
Ada sebuah perasaan takut dan khawatir yang menggebu-gebu di hati Charlin. Bukan hanya karena kelulusan SD yang akan di umumkan secara serentak hari ini. Terlebih, ini adalah perasaan khawatir yang mendalam. Perasaan Charlin kali ini bukan berpihak pada rasa khawatir akan tidak lulus. Tapi Tian, Tian terus saja berlalu lalang di dalam pikirannya.
Dia khawatir akan tidak bertemu lagi dengan mahluk menjengkelkan yang selalu ingin berteman dengannya itu. Kabarnya Tian akan disekolahkan di sekolah favorit di Yogyakarta. SMP N 5 Yogyakarta. Itu berarti di luar Jakarta, dan mereka akan berpisah.
Tak tampak wajah jahil Tian pagi ini di sekolah. Kemana dia? Ucap Charlin dalam hati. Ternyata Charlin telah tertarik pada Tian. Charlin membutuhkan Tian.
Charlin sudah besar. Bahkan dia telah tumbuh menjadi perempuan remaja yang cantik. Charlin tidak mungkin terus-terusan bermain dengan teddy bear, dan tak harus menenteng boneka melulu.
Pengumuman kelulusan akan segera dilaksanakan, tampak wajah cemas pada siswa/siswi SD 01 Manggarai saat ini. Di aula sekolah yang cukup besar, tampak masing-masing orang tua menenangkan hati anak-anaknya. Jody, ayah Tian, yang tampak sabar menunggu hasil anaknya selama 6 tahun ini. Sementara Tian, tak menampakkan wajah cemas seperti anak-anak lainnya, dia terlalu sibuk mencari-cari keberadaan Charlin yang tak dilihatnya sejak tadi.
Charlin ditemani Joice, ibunya. Tak henti-henti wajah cemas justru tampak pada wajah Joice. Namun tak lama kemudian, nama Charlin pun dipanggil, “Ros Charlin Sharon.” Joice pun bergegas mengambil surat hasil keputusan kelulusan Charlin. Nama Tian pun kemudian dipanggil, Jody ayah Tian, segera mengambil surat hasil keputusan. Wajah senang sekaligus bangga terpancar diantara mereka berdua. Orang tua yang sangat beruntung memiliki anak berprestasi seperti Tian dan Charlin.
Tahun ini nilai UN SD tertinggi diraih oleh kedua murid SD 01 Manggarai, Charlin dan Tian. Perasaan senang sekaligus bangga bergelayut diantara mereka berdua. Tentunya orang tua mereka juga. Diantara sorak-sorai kegembiraan seluruh murid SD 01 Manggarai, Tian yang saat itu tengah menggiring bola kesayangannya sambil berjalan menuju Charlin yang sedang bersama ibunya itu.
“Selamat ya atas nilai tertinggimu itu, aku bangga deh”
“Ya, kamu juga, selamat ya, selamat juga karena telah diterima di SMP terbaik di Yogyakarta.”suara Charlin mulai bergetar, dia tampak sedih.
“Iya terima kasih banyak, ini pertanda kamu telah membuka diri untuk menjadi temanku, aku ada hadiah buat kamu, ini... anggap aja ini kotak persahabatan, di dalamnya ada barang yang sangat berharga untuk aku, liontin dari ibu. Aku berani kasih ini ke kamu, karena aku yakin kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.”
Ibu Tian telah meninggal karena kecelakaan saaat Tian berumur 8 tahun, dan keadaan itu yang membuat Tian menjadi anak yang jahil, dia selalu mencari-cari perhatian orang-orang. Namun Tian tumbuh menjadi anak yang pintar. Ia banyak belajar dari pahitnya kehilangan seorang ibu.
Charlin sangat bingung mengapa ia seperti di tempatkan sebagai orang spesial di kehidupan Tian. Aku yakin kita akan bertemu suatu saat nanti. Kata-kata itu yang selalu di ingat Charlin. Senyum ternyata telah terpancar di bibir tipis Charlin.
****
Diary Charlin.
Ada perasaan senang yang bergelayut di hati aku. Aku mendapat nilai UN tertinggi, tapi bersama Tian. Aku tetap senang, tak mampu aku ucapkan seberapa dalam aku bahagia hari ini.
Tentang perpisahan, sebuah kata yang sangat aku benci, sebuah kata yang sangat aku hindari. Jika aku disuruh untuk memilih, aku lebih memilih untuk tidak memiliki pertemuan dengan mu, Tian. Karena yang aku tahu, perpisahan itu akan datang saat aku belum siap hal itu kan terjadi.
Namun hukum setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, bukan? Aku sadari itu. Aku hanya ingin suatu hari nanti aku bertemu kembali dengan Tian, seseorang yang mampu membuat aku bertahan. Diantara mereka yang selalu meremehkan aku, mengolok-olok aku, mencemooh dan menghina ku. Ah apa lah itu. Yang paling indah akan menjadi tetap yang terindah. Tian memberikan sebuah hadiah kotak persahabatan. Ini membuat ku sungguh yakin akan ucapan sebelum kepergiannya itu, dia bilang : aku yakin kita akan bertemu suatu saat nanti. Hal ini yang selalu terngiang di telinga dan tentunya di fikiranku. Ucapan terakhir Tian, sebelum berpisah. Aku selalu ingat saat-saat kami berdua tersipu malu, dan perasaan riang berkeliling di antara kami. Saat itu dia sedang menggiring bola menuju kehadapan ku. Dengan wajah mata sipitnya, dengan tangan yang menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal itu.
Uhh sungguh lucu sekali. Saat itu, aku telah membuka diri selebar mungkin, seperti yang Tian harapkan padaku. Baiklah ini satu kebahagiaan ku. Yang baru saja datang, dan tiba-tiba segera menghilang.



****

SMP N 115, Tebet Utara III, Jakarta.
Entah apa yang membuat perasaan rindu kini telah menggebu-gebu di hati Charlin. Telah lama tak bertemu karena terpisah jarak. Apakah masih ada kata persahabatan di antara mereka?
Dalam doa selalu terucap nama Tian, agar selalu dalam lindungan-Nya. Rasa ingin melindungi itu pun rasanya terwakilkan dengan doa ditiap-tiap sujud di ibadah Charlin. Rasa tulus ingin mengasihi terasa begitu syahdu. Tak ada seorang pun yang tahu, bahwa cinta telah hadir di lubuk hati Charlin yang paling dalam. Namun semua ini rasanya terlalu dini bila disebut cinta, Charlin baru saja masuk sekolah, gadis remaja berumur 12 tahun, mungkinkah ini hanya cinta monyet? Yang hanya mengagumi saja?
Lingkungan sekolah baru, SMP N 115, Tebet Utara III, Jakarta. Kemana pun langkah kaki Charlin melangkah, selalu ada bayang Tian yang mengikutinya.
Saat ini Charlin mempunyai banyak teman, namun tak ada yang dapat menggantikan Tian. Tentang teddy-teddy bear miliknya, yang telah berjumlah puluhan itu, disusun dalam sebuah lemari khusus. Lemari kenangan.
Ternyata konsultasi Joice dengan dokter, membuahkan hasil. Ibu dari seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus membuat Joice menjadi ibu yang cerdas. Kini kehadiran Joice mampu membuat hidup Charlin lebih berwarna lagi. Kehidupan yang tak mesti ditemani dengan teddy bear saja.
Kini Charlin tumbuh menjadi anak normal seperti semestinya, walaupun tanpa kehadiran sang ayah. Lalu dimana ayah Charlin?
Joice, bahagia karena telah memiliki anak sekuat dan setegar Charlin. Hingga pada akhirnya Joice menentukan pilihan. Ia akan megatakan semua tentang Handika, ayah Charlin.
Joice tak harus berbohong tentang ini semua lebih panjang lagi. Bibik, juru kunci tentang rahasia hidup Charlin, tak dapat berbuat banyak. Hanya diam, dan hanya bisa diam. Joice tak pernah lagi mengirim kan boneka teddy bear setiap weekend tiba. Dan mengatasnamakan ayah. Seseorang yang sebenarnya tak ada.
Charlin sedang menonton televisi. Serial tv new cookies, acara favorit yang Charlin tunggu-tunggu saat sore tiba. Joice yang sengaja memilih pulang lebih awal hari ini, bermaksud ingin menemani Charlin.
“Nak, ibu mau bicara.” Suara lembut Joice memulai pembicaraan.
“Iya. Ada apa bu?” balas Charlin yang sambil menatap layar kaca, televisinya.
“Ini tentang ayah.” Sontak perkataan Joice tadi membuat Charlin berbalik arah memandangi wajah ibunya itu.
“Ha? Kenapa bu? Ayah dimana? Ibu mau mempertemukan kami berdua?
“Ehm... ibu janji akan mempertemukan kalian berdua, tapi ibu akan mencari waktu yang tepat nak.” Joice tampak salah tingkah dan memilih untuk mengurungkan niatnya untuk mempertemukan ayah dan anak itu. Charlin tampak tak sabar dan membayangkan wajah ayah yang tak pernah di lihatnya.
Kehampaan yang seharusnya berakhir kini telah menduduki waktunya. Perlahan tapi pasti, semua butuh proses. Itu yang selalu orang katakan untuk mendapatkan titik akhir.
Charlin sangat bingung dengan perckapan antara dia dan ibu, yang membuat nya semakin penasaran. Membuat nya semakin memiliki rasa rindu yang amat sungguh kepada sang ayah.
Saat kesakitan bermuara pada hati Charlin, dia hanya bisa menangis. Seperti biasa, menangis.



****



Tian. Charlin sadar, dia bukan siapa-siapa Tian. Tapi entah mengapa, dalam keadaan seperti ini Charlin sungguh membutuhkan Tian, pada nyatanya Charlin memang selalu membutuhkan Tian, entah dalam keadaan apa pun itu.
Hari-hari yang dilewati Charlin terasa sama, tak ada yang mampu membuatnya berbicara banyak selain Tian dan Joice, ibunya. Charlin memang sosok yang pendiam, sebelum dan sesudah autistik yang pernah masuk dan keluar dari tubuh dan batinnya itu.
Charlin mulai menuliskan keluh kesah nya.

*dear diary
Kali ini, aku memang benar-benar menjadi seseorang yang sangat kuat, tak pernah aku menyangka sejauh ini aku melangkah, tak pernah aku menyangka sejauh ini aku terluka. Lagu shela on 7 ini, membawa aku pada sebuah fikiran positif  karena bila hidup harus berputar, biarlah berputar. Show must go on. Lirik nya yang membangun ini, membuat aku sadar bahwa tak selamanya derita menyertai aku. Waktu terasa berlalu teramat lama, ketika tak ada seorang pun yang mengerti aku selain kamu, Tian. Mungkin hanya dalam doa aku bisa merasakan kau selalu di dekatku. Aku pun yakin, sendirian tak berarti kesepian, bukan?
Dalam setiap sujud di ibadah ku, aku yakin Allah akan menjagamu. Kita memang berbeda, lagi pula kita terpisah jarak. Di hening nya malam hari, di setiap malam aku bangun dan mengambil wudhu untuk sholat tahajud, bersama tasbih ku, dengan zikir-zikir ku kepada Allah, sang pencipta alam, di balik banyak nya doa-doa ku, terselip namamu. Aku selalu berharap suatu hari nanti aku bertemu dengan mu, seperti janji mu itu Tian.
Saat aku membaca AL-QUR’AN dengan khusu’ disini. Aku yakin kamu pun melakukan hal yang sama, membaca ALKITAB disana. Yang aku tahu, Septian Danang Swandana adalah seorang Khatolik sejati. Sementara aku seorang Muslimah. Aku menengadahkan kedua tanganku, sementara Tian melipat kedua tangannya. Mungkin kah ini terlalu dini untuk menyebutkan bahwa aku mencintai Tian? Setahun telah berlalu, sejak kejadian itu, saat Tian memberikan kotak persahabatan padaku. Rasanya ini bagaikan seabad. Lama sekali.
Aku ingin sekali waktu-waktu yang indah itu menjemput ku kembali, saat Tian datang dengan sapaannya yang membuat ku kaget. Lalu saat Tian diam-diam mengikuti aku dari belakang. Indah, terasa indah.
Kita berada pada posisi yang salah Tian. Tapi aku tak akan pernah menyalahkan waktu, yang mempertemukan, dan memisahkan kita ini.



****

Tiba-tiba saja handphone Charlin berbunyi, pertanda panggilan masuk. Ternyata sejak tadi Charlin menulis diary dan menggambar, handphonenya telah berbunyi berkali-kali, namun karena terlalu asik, Charlin tak mendengarnya. Ada 35 missed call dari unknown number.
“Hallo, assalamualaikum”suara Charlin terdengar jelas di ganggang telpon.
“Iya, ini Charlin kan ?” tiba-tiba suara itu flash back di otak Charlin, suara yang amat dia kenal, tapi rasanya tidak mungkin.
“Iya maaf, siapa ya?” Charlin pun dengan cepat menjawab pertanyaan seorang misterius dari balik telepon itu.
“Aku rindu suara ini, suara yang sulit untuk terdengar, bahkan saat aku selalu mengganggu mu ketika di sekolah, aku rindu mengikuti mu dari belakang secara diam-diam, sekarang apa kabar kamu ya? Apa kamu punya banyak teman sekarang? Aku ingin sekali bermain dengan mu lagi, tapi rasanya tidak mungkin.” Ucapan yang panjang lebar tersebut sontak membuat Charlin bingung, dan mengira-ngira bahwa itu Tian. Orang yang dia butuhkan.
“Tian? Apa kamu Tian?
“Aku, aku... aku akan kembali, tunggu aku”
Tuuuttt tuuutt. Sambungan telpon terputus, masih ada pertanyaan yang menggantung, membuat Charlin kurang meyakini bahwa yang menelponnya barusan adalah Tian. Seseorang yang beberapa tahun yang lalu telah pergi dari Charlin.


****


Diary.
Tahun baru.
Aku tak mengerti apa yang seharusnya aku rasa kan saat ini. Apakah aku harus bahagia? Ataukah aku harus tetap dan terus bersedih? 3 tahun berlalu rasanya tahun baru kali ini penuh dengan kesakitan. Bertahun-tahun berlalu kulewati tanpa Tian, lalu sosok yang misterius itu membuat aku makin yakin bahwa aku tetap dekat dengan nya. Walau jarak pemisah seperti dinding tembok pencakar langit, membuat kata tidak mungkin semakin berkecamuk di antara pertemuan kita.
Tentang ayah, tentang Tian.
Dua sosok laki-laki yang tak ada di sisiku. Padahal aku membutuhkan mereka. Ayah, seorang laki-laki yang tak pernah kutahui rimbanya, tak pernah kutemui rupanya, dan aku tak pernah menyentuh indah dan bahagianya memiliki seorang ayah.
Dua bulan pasca percakapan antara aku dan ibu. Tentang ibu yang katanya ingin mempertemukan aku dengan ayah. Lalu ? kapan ? kapan ?
Aku seseorang gadis yang bersahabat dengan sunyi dan kesepian. Akan tetap begini kah?


****
       

Malam tahun baru berlalu begitu cepat, kali tetap sama seperti tahun-tahun yang lalu, saat pergantian tahun dilewati Charlin bersama diary dan gambar-gambarnya. Joice, ibunya telah mengajak Charlin untuk ikut meramaikan tahun baru di luar rumah. Namun, seperti biasa, Charlin selalu menolak.
Tiba-tiba, handphone Charlin berbunyi, pertanda panggilan masuk. Lagi-lagi unknown number.
“Hallo, Charlin? Selamat tahun baru, happy new year yaa.. jangan suka murung dikamar terus dong, sama diary dan gambar mu itu. Teddy gak ada lagi kan? Kan kamu udah gede. Hang out keluar dong sekali-kali, kamu kan udah punya banyak temen tuh.”
Charlin tetap diam, sementara orang di seberang sana telah berceloteh panjang lebar.
“Charlin? Kamu dengar aku gak?”
Hening.
Charlin yang sedang tidak berselera untuk bicara. Dia langsung menekan tombol end call. Siapa lagi sih ini. Selalu misterius, pake unknown number lagi, lagi dan lagi, menyebalkan. Gumam Charlin dalam hati.
Ada sebuah rasa yang harus Charlin buang jauh-jauh. Kesedihan, kesakitan, kehampaan. Dan ada sebuah rasa yang harus segera Charlin ciptakan. Bahagia.
Charlin tak boleh terus merasa sendiri, Charlin memiliki banyak orang yang menyayanginya. Charlin bertahan.


****

Ruang lingkup baru.
SMA 8, Tebet, Jakarta Selatan.
Ospek terakhir penerimaan siswa baru hari ini berlangsung lancar. Charlin tetap saja dengan wajah datar, hampa yang ia rasakan seakan abadi.
Dia selalu benci dengan hal baru, pertemuan, lalu perpisahan. Karena perpisahan selalu membuat suatu pribadi jatuh pada titik terlemahnya, ketika perpisahan menjadikan seseorang tak mampu lagi berdiri. Karena setiap perpisahan adalah akibat dari sebuah pertemuan.
Pertemuan kini terjadi, namun bukan pertemuan yang pertama.
“Hay Charlin, tenanglah aku tak akan menghubungi mu dengan unknown number lagi, dan kamu tak perlu meng end call kan telponku.” Suara itu membuat Charlin terkejut. Seorang yang mengagetkan, akan tetap menjadi seorang yang mengagetkan.
“TIAAAANNN” teriakan Charlin dibalas dengan pelukan hangat dari Tian.
Mereka berdua saling melepas rindu, bertahun-tahun dilewati dengan kesakitan, hanya untuk sebuah pertemuan kedua dan terakhir. Charlin tak mampu berkata banyak, dia hanya bisa tersenyum gembira.
“Aku tidak akan ingkar janji, aku tetap akan menemui mu, seperti janji ku, saat pertemuan dan perpisahan kita ketika SD.
“Berjanjilah Tian, bahwa kamu tak akan pergi meninggalkan ku lagi.”
Tian kini telah bersama Charlin kembali, walaupun rasa diantara mereka berdua tak pernah di ungkapkan oleh kata. Percakapan demi percakapan terasa begitu menyenangkan. Dan waktu rasa nya engan untuk berlalu. Namun mereka mempunyai rasa yang sama. Cinta tapi beda.
Perbedaan tak selalu menjadi alasan untuk dua insan manusia untuk saling menjaga, untuk saling mengasihi, saling menyayangi. Dan tak selamanya sedih dan kesakitan akan terus merajai kehidupan Charlin. Karena bahagia, telah tiba, bahagia telah ia ciptakan sendiri.

****

Kebahgiaan dari seorang yang telah lama pergi dan kini kembali.
Joice telah memilih, ini waktu yang tepat untuk mempertemukan ayah dan Charlin.
“Nak, ini waktunya, ayo ikut dengan ibu?.” Suara Joice melemah, dia seakan menahan tangis.
“Waktu apa bu? Bertemu dengan ayah ya?” Charlin dengan semangat pergi bersama ibu. Sementara Joice hanya bisa tersenyum.
Mobil mengarah pada jalan yang sunyi. Jalan menuju tempat yang selalu orang takut kan untuk berada disini. Mengharukan.
“Bu? Kok ini jalannya menuju ke pemakaman?” Charlin mulai terisak. Perasaannya mulai tak menentu, kacau.
Sementara Joice hanya bisa diam. Hanya diam.
“Ini ayah nak. Bersabarlah, maafkan ibu” Joice tak kuasa menahan tangis kali ini.
“Ayahh??? Ayah ??? meninggal ??? hah ??? ibu jahat. Ibu kenapa baru kasih tahu aku sekarang?” Charlin menangis, dia sangat terpukul. Sementara Joice hanya menangis.
“maafkan ibu nak, ibu hanya menunggu waktu yang tepat untuk berbicara padamu, ibu takut kamu tidak siap. Dan ibu kira, inilah waktu mu nak, ini waktu yang tepat.”

****

Dear diary
Ayah, seseorang yang pernah hilang dan tak kembali. Adilkah ini bagiku? Tak pernah aku merasakan, ternyata sedalam ini kesakitan ku. Sejauh ini ibu terlalu apik menyimpan tentang rahasia hidupku. Ayah meningal? Dan aku tak tahu itu. Bodoh, kenapa ini terjadi Tuhan !
Saat seorang misterius yang dulu pernah pergi dan kembali lagi masuk dalam hidupku, Tian. Kini dia hadir. Tapi, ayah ? tak kembali. Dalam tangis ku kau selalu ada temani aku, menghapus luka ku, menghapus lara ku. Tentang teddy teman kecil ku, aku rindu. Ternyata kau hadir karena kepalsuan, kebohongan. Ibu yang memberikan mu padaku. Ibu pula yang dengan sendirinya membuat ku berasumsi bahwa teddy adalah kado tiap weekend dari ayah, kado ulang tahun dari ayah. Dan ternyata apa? Itu palsu. Ayah yang sebenarnya tak ada. Ini menyakitkan, sungguh menyakitkan. Mengapa? bahagia sulit hadir, mengapa tangis ku abadi? Aku benci. Benci.

****

Charlin kembali bersedih, dia tak bisa membayangkan mengapa hidup sekejam ini padanya. Tapi Charlin punya Tian. Seseorang yang akan menghapus laranya, menghapus lukanya. Lebih dari tisu-tisu Charlin. Lebih dari itu.
Sepi sunyi tak selamanya hadir disini.
Tian dengan motor red ninja nya pergi menuju rumah Charlin. Sementara Charlin, masih sibuk menggambar dengan kesendiriannya.
“Charlin, sedih tak semestinya jadi teman abadi mu, aku akan selalu hadir dalam semua keadaanmu, apa pun itu” suara Tian menggeming di telinga Charlin membuat nya menoleh kepada hadapan Charlin. Lirih.
“Kamu tak pernah tahu tentang kesakitan ku Tian, kamu baru datang dan sibuk mengurusi aku, siapa kamu?” Charlin mulai meninggi dan emosinya meluap.
“ Charlin, Charlin, kamu bilang aku tak tahu apa-apa tentang kehidupan mu? Ayolah, buka mata mu itu, gak semestinya kamu menilai aku seburuk ini.” Dengan sabar Tian mencoba menenangkan Charlin.
“Diam, aku tak ingin bicara.” Charlin menghentikan percakapan dengan Tian.
Hening.

Dua hati yang berbeda. Mungkin sebuah rasa yang semu, yang datang dan pergi sesukanya. Lalu peran Tuhan mengubah hati manusia dengan waktu yang Ia inginkan. Sesukanya, seinginnya, sekehendaknya.

Tisu, tak selamanya air mata berarti kesedihan. Lalu mereka bilang sedih itu menyakitkan. Mereka bilang, sedih itu harus dimusnahkan. Tapi… jangan khawatir, karena selalu ada tisu yang menghapus lukamu, menghapus laramu. Menjadikanmu pribadi yang lebih bersih. Lebih tegar.

****


3 Agustus .
Tepat hari ini, Charlin berusia 17 tahun, dan bahagianya, surprise yang tak pernah menyentuh hidupnya, terjadi. Tian yang tepat pukul 00.00 WIB memberikan kejutan pada Charlin. Hari sebelumnya, sebelum tepat pukul 00.00 WIB Tian memang dengan sengaja menghindar dari Charlin, agar kejutan semakin sempurna.
Pintu kamar Charlin diketok. Charlin pun keluar dengan wajah kantuk yang tak terbendungkan.
“ Selamat ulang tahun Charlin, selamat ulang tahun” serentak teriakan itu membuat Charlin terkejut, bahagia.
Seluruh teman sekolah Charlin di SMA, SMP, bahkan SD hadir malam ini. Ternyata banyak orang-orang yang diam-diam peduli dan sayang pada Charlin. Mereka semua membawa masing-masing boneka teddy bear di tangan.
Sementara Joice, ibunya membawakan kue tart besar untuk Charlin. Kue ulang tahun Charlin berbentuk kotak tissue. Dan tertulis di atasnya : bahagia akan tercipta sendiri sayang.
Sontak semua hal itu membuat Charlin terharu. Membuatnya merasa hari ini tak akan tergantikan oleh apapun.

Perbedaan tak selamanya menyakitkan, bukan kah Tuhan menempatkan cinta dan kasih sayang sesuai rencana dan alasan. Dalam setiap pertemuan pasti terselip rencana dari Tuhan.
Tentang Charlin dan Tian. Dua insan manusia yang mencerminkan bahwa tak selamanya cinta harus memiliki, tak selamanya cinta harus terhenti dan dimusnahkan. Tian berjanji selalu akan bersama Charlin. Walau dalam keadaan apapun, dalam keadaan apapun.
Bagi Charlin, cinta itu seperti lingkaran. Tak ada titik awal dan tak punya titik akhir.
Biarkan cinta mnegalir seperti air. Tak perlu tahu kapan pada awal munculnya, tak perlu mencari dimana titik akhirnya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar